WAWASAN
SENI
(Nilai
Estetis, Dorongan Berkarya Seni dan Sejarah Perkembangan Seni)
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah :
Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan
Dosen pembimbing
: Muhammad Reyhan Florean, M.Pd
Disusun Oleh :
1.
Dyah Noni Sukessi ( 14186206291 )
2.
Dhea Aryani .S ( 14186206130 )
3.
Gandes Rinda .P ( 14186206322 )
4.
Retno Wijayanti ( 14186206287 )
5.
Isa Fitri Setiawan ( 14186206134 )
PGSD/3D
Kelompok : 2
STKIP PGRI
TULUNGAGUNG
Jln. Mayor Sujadi No. 7 Tulungagung
Telp.
0355-3214265
WAWASAN
SENI
(Nilai
Estetis, Dorongan Berkarya Seni dan Sejarah Perkembangan Seni)
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah :
Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan
Dosen pembimbing
: Muhammad Reyhan Florean, M.Pd
Disusun Oleh :
6.
Dyah Noni Sukessi ( 14186206291 )
7.
Dhea Aryani .S ( 14186206130 )
8.
Gandes Rinda .P ( 14186206322 )
9.
Retno Wijayanti ( 14186206287 )
10. Isa
Fitri Setiawan ( 14186206134 )
PGSD/3D
Kelompok : 2
STKIP PGRI
TULUNGAGUNG
Jln. Mayor Sujadi No. 7 Tulungagung
Telp.
0355-3214265
KATA PENGANTAR
Segala
puji syukur ke-Hadirat Alloh SWT yang telah memberikan hidayah dan inayahnya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar tanpa
halangan suatu apapun. Tanpa hidayah dan inayahnya mungkin kami tidak akan
sanggup dalam menyelesaikan makalah ini yang berjudul “WAWASAN SENI (Nilai
Estetis, Dorongan Berkarya Seni dan Sejarah Perkembangan Seni)”
1.
Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih
kepada : Muhammd Reyhan Florean,M.Pd selaku dosen Seni Rupa dan Kerajinan yang
telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini.
2.
Rekan-rekan yang telah membantu dan
memberikan motivasi dalam menyusun makalah ini.
Kami
membuat makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Seni Rupa dan Kerajinan. Kami
juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari rekan-rekan semua agar makalah ini bisa
mendekati sempurna dan bermanfaat bagi para pembaca.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar
Isi................................................................................................................. iii
2.1 Latar
Belakang............................................................................................... 1
2.2 Perumusan
Masalah........................................................................................ 2
2.3 Tujuan............................................................................................................. 2
2.4 Manfaat.......................................................................................................... 2
BAB
II Pembahasan................................................................................................ 3
2.1 Nilai
Estetis.................................................................................................... 3
2.2 Doorongan
Berkarya Seni dan Sejarah Perkembangan Seni........................ 10
BAB
III Penutup................................................................................................... 20
3.1 Kesimpulan................................................................................................... 20
3.2 Saran............................................................................................................. 21
Daftar
Pustaka....................................................................................................... 22
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Seni selalu menarik untuk dibicarakan bukan
hanya karena keindahan akan tetapi disadari atau tidak, manusia tidak dapat
lepas dari seni. Melekatnya seni pada hampir seluruh aspek kehidupan manusia kerap
kali menyulitkan kita untuk memilah seni dan yang bukan seni. Pegertian seni
wawasan dalam wawasan seni, seperti halnya dalam wawasan nusantara, mengandung
arti pandangan, tinjauan, penglihatan atau pergelihatan indrawi.
Wawasan adalah suatu sudut pandang, suatu
cara khusus untuk mengamati sesuatu dan menatanya sedemikan rupa sehingga lebih
bermakna, dengan kata lain pandangan terhadap seni sebagai suatu kesatuan baik
untuk seluruh jenis seni atau sebuah karya seni saja, sekaligus juga mencoba
memahaminya dari berbagai sudut pandang secara berkaitan. Karena pengamatan
pada seni tidak terbatas pada penglihatan indrawi saja, tetapi termasuk pula
yang disebut penglihatan intuitif, maka wawasan dalam seni kecuali menunjukkan aktivitas
mengamati, mengetahui dan menguasai seni, juga melukiskan cara pandang, cara tinjau,
cara lihat, cara rasa yang masuk ke dalam seni melalui alat indera. Pergertian
seni untuk memperoleh pergertian tentang seni mula-mula perlu dibedakan antara
segala sesuatu yang termasuk seni dan bukan seni. Kemudian akan diperoleh semacam
rumusan atau batasan seni.
Apresiasi seni adalah persoalan sikap
yaitu sikap seseorang terhadap seni sebagaimana ia menghayati dan menghargai
dengan sebaik- naiknya. Sedangkan Karya seni adlah suatu hasil pernyataan batin
atau ungkapan jiwa seseorang yang mengandung maksud tertentu, hal itu dapat
ditinjau dari berbagai titik pandang, anatara lain tinjauan dari segi psikolog,
segi sosiologi, dan segi estetika. Apabila beberapa langkah-langkah seperti
berikut ditempuh dengan baik kiranya seseorang akan memilih alat pandang yang
dapat dipakai untuk mengetahui dunia seni sampai pada batas cakrawala yang
diperlukan, itulah yang akan memperluas wawasan orang terhadap seni sehingga ia
benar-benar dapat menentukan seni itu apa dan bagaimana seharusnya ia memahami
seni sebagai kebutuhan dalam hidupnya.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari pembahasan diatas yang menjadi
perumusan masalah adalah :
1.
Apa yang
dimaksud dengan nilai estetis ?.
2.
Apa yang
dimaksud dengan dorongan berkarya seni dan sejarah perkembangan seni ?.
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui maksud dari nilai
estetis
2.
Untuk
mengetahui maksud dari dorongan berkarya seni dan sejarah perkembangan seni.
1.4
Manfaat
Penelitian
Dengan makalah
ini, diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta pemahaman yang baik, baik kepada
penulis maupun kepada pembaca tentang Wawasan Seni yang meliputi ; Nilai
Estetis, Dorongan Berkarya Seni dan Sejarah Perkembangan Seni. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan
makalah ini adalah pembaca dapat mengetahui maksud dari nilai estetis, dorongan
berkarya seni dan sejarah perkembangan seni.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Nilai Estetis
Istilah dan pengertian
keindahan tidak lagi mempunyai tempat yang terpenting dalam estetik karena
sifatnya yang makna ganda untuk menyebut berbagai hal, bersifat longgar untuk
dimuati macam-macam ciri dan juga subyektif untuk menyatakan penilaian pribadi
terhadap sesuatu yang kebetulan menyenangkan. Orang dapat menyebut serangkaian
bunga yang sangat berwarna-warni sebagai hal yang indah dan suatu pemandangan
alam yang tenang juga sebagai suatu hal yang indah pula. Orang juga dapat
menilai indah itu sebagai sebuah patung yang bentuk-bentuknya setangkup, sebuah
lagu yang nada-nadanya selaras atau sebuah sajak yang isinya menggugah
perasaan. Konsepsi yang bersifat demikian itu sulit dijadikan dasar untuk
menyusun suatu teori dalam estetik. Oleh karena itu orang lebih menerima
konsepsi tentang nilai estetis (aesthetic value) yang dikemukakan
antara lain oleh Edward Bullough (1880 1934).
Untuk membedakannya
dengan jenis-jenis lainnya seperti misalnya nilai moral, nilai ekonomis dan
nilai pendidikan maka nilai yang berhubungan dengan segala sesuatau yang
tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetis. Dalam hal ini
keindahan "dianggap" semakna dengan nilai estetis pada umumnya.
Apabila sesuatu benda disebut indah, sebutan itu tidak menunjuk kepada sesuatu
ciri seperti umpamanya keseimbangan atau sebagai penilaian subyektif saja,
melainkan menyangkut ukuran-ukuran nilai yang bersangkutan. Ukuran-ukuran nilai
itu tidak selalu sama untuk masing-masing karya seni, ukuran nilai tersebut
bermacam-macam alasan bisa karena manfaatnya, langka atau karena coraknya yang spesifik.
Yang kini menjadi
persoalan adalah apakah yang dimaksud dengan nilai? Dalam bidang filsafat,
istilah nilai sering dipakai sebagai suatu kata benda abstrak yang berarti
keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). Dalam Dictionary od Sociology
and Related Sciences diberikan perumusan tentang value yang
lebih terperinci lagi sebagai berikut: The believed capacity of any object
to satisfy a human desire. The quality of any object which causes it to be of
interest to an individual or a group. (Kemampuan yang dipercayai ada pada
sesuatu benda untuk memuaskan suatu keinginan manusia. Sifat dari sesuatu benda
yang menyebabkannya menarik minat seseorang atau suatu golongan).
Menurut kamus nilai
adalah semata-mata suatu realita psikologis yang harus dibedakan secara tegas
dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu
sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapat pada sesuatu benda sampai
terbukti kebenarannya. Dalam bidang filsafat persoalan-persoalan tentang nilai
ditelaah oleh salah satu cabangnya yang disebut axiology atau kini lebih
sering disebut theory of value (teori nilai). Problem-problem pokok
yang dibahas dan sampai sekarang masih belum ada kesatuan paham ialah mengenai
ragam nilai (types of value)dan kedudukan metafisis dari
nilai (metaphysycal status of value).
Mengenai berbagai ragam
dari nilai, ada pendapat yang membedakan antara nilai subyektif dan nilai
obyektif. Pembedaan lainnya ialah antara nilai perseorangan dan nilai
kemasyarakatan. Tapi penggolongan yang penting dari para ahli ialah pembedaan
nilai dalam nilai ekstrinsik dan nilai intrinsik. Nilai ekstrinsik adalah sifat
baik atau bernilai dari sesuatu benda sebagai suatu alat atau sarana untuk
sesuatu hal lainnya. Ini sering disebut instrumental (contributory)
value, yakni nilai yang bersifat alat atau membantu. Sedang dengan nilai
intrinsik dimaksudkan sifat baik atau bernilai dalam dirinya atau sebagai suatu
tujuan ataupun demi kepentingan sendiri dari benda yang bersangkutan. Ini
kadang-kadang disebut juga consummatory value,yakni nilai yang telah lenngkap
atau mencapai tujuan yang dikehendaki. Yang umumnya diakui sebagai nilai-nilai
intrinsik itu ialah kebenaran, kebaikan dan keindahan. Akhirnya orang
membedakan pula antara nilai positif (untuk sesuatu yang baik atau bernilai)
dan lawannya, yakni nilai negatif.
Dalam perkembangan
estetik akhir-akhir ini, keindahan tidak hanya disamakan artinya dengan nilai
estetis pada umumnya, melainkan juga dipakai untuk menyebut satu macam atau
kelas nilai estetis. Hal ini terjadi karena sebgian ahli estetik pada abad 20
ini berusaha meyempurnakan konsepsi tentang keindahan, mengurangi sifatnya yang
berubah-ubah dan mengembangkan suatu pembagian yang lebih terperinci misalnya
seperti ; beautiful (indah) terperinci pretty (cantik), charming (jelita),
attractive (menarik) dan graceful (lemah gemulai). Dalam arti yang lebih
sempit dan rangkaian jenjang itu, keindahan biasanya dipakai untuk menunjuk
suatu nilai yang derjatnya tinggi. Dalam hal ini sangat jelas bahwa sifat
estetis mempunyai ruang lingkup yang lebih luas daripada sifat indah karena
indah kini merupakan salah satu kategori dalam lingkungannya. Demikian pula
nilai estetis tidak seluruhnya terdiri dari keindahan.
Nilai estetis selain
terdiri dari keindahan sebagai nilai yang positif kini dianggap pula meliputi
nilai yang negatif. Hal yang menunjukkan nilai negatif itu ialah
kejelekan (ugliness). Kejelekan tidaklah berarti kosongnya atau
kurangnya ciri-ciri yang membuat sesuatu benda disebut indah, melainkan
menunjuk pada ciri-ciri yang nyata bertentangan sepenuhnya dengan kwalita yang
indah itu. Dalam kecenderungan seni dewasa ini, keindahan tidak lagi merupakan
tujuan yang paling penting dari seni. Sebagian seniman menganggap lebih penting
menggoncangkan publik daripada menyenangkan orang dengan karya seni mereka.
Goncangan perasaan dan kejutan batin itu dapat terjadi, dengan melalui
keindahan maupun kejelekan. Oleh karena itu kini keindahan dan kejelekan
sebagai nilai estetis yang positif dan yang negatif menjadi sasaran penelaahan
dari estetik filsafati serta nilai estetis pada umumnya kini diartikan sebagai
kemampuan dari sesuatu benda untuk menimbulkan suatu pengalaman estetis.
Filsuf seni dewasa ini
menjawab bahwa nilai estetis itu tercipta dengan terpenuhi asas-asas tertentu
mengenai bentuk pada sesuatu benda (khususnya karya seni yang diciptakan oleh
seseorang). Berlawanan dengan apa yang dikemukakan oleh teori obyektif, teori
subyektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan pada sesuatu
benda sesungguhnya tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan perasaan dalam diri
seseorang yang mengamati sesuatu benda . Adanya keindahan semata-mata
tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa
sesuatu benda mempunyai nilai estetis, hal ini diartikan bahwa seseorang
pengamat memperoleh sesuatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap benda
itu.
Hampir semua kesalahan
kita tentang konsepsi seni ditimbulkan karena kurang tertibnya menggunakan
kata-kata "seni" dan "keindahan", kedua kata itu menjebak
kita cara menggunakan. Kita selalu menganggap bahwa semua yang indah itu seni
dan yang tidak indahn itu bukan seni. Identifikasi semacam itu akan mempersulit
pemahaman/apresiasi karya kesenian. Herbert Read dalam bukunya yang
berjudul The Meaning of Art mengatakan: bahwa seni itu tidaklah harus
indah (Read 1959: 3).
Sebagaimana yang telah
diutarakan diatas, keindahan pada umumnya ditentukan sebagai sesuatu yang
memberikan kesenangan atas spiritual batin kita. Misal: bahwa tidak semua
wanita itu cantik tetapi semua wanita itu mempunyai nilai kecantikan, dari
contoh tersebut kita dapat membedakab antara keindahan dan nilai keindahan itu
sendiri. Harus kita sadari bahwa seni bukanlah sekedar perwujudan yang berasal
dari idea tertentu, melainkan adanya ekspresi/ungkapan dari segala macam idea yang
bisa diwujudkan oleh sang seniman dalam bentuk yang kongkrit.
Setiap manusia
mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda tergantung relativitas pemahaman yang
dimiliki. Tingkat ketajaman tergantung dari latar belakang budayanya, serta
tingkat terlibatnya proses pemahaman. Oleh Pavlov, ahli psikologi, mengatakan
bahwa tingkat pemahaman seseorang tergantung dari proses hibitution(ikatan
yang selalu kontak). Sehingga pemahaman tergantung dari manusianya dalam
menghadapi sebuah karya hasil ungkapan keindahan.
Penghayat yang merasa
puas setelah menghayati karya seni, maka penghayat tersebut dapat dikatakan
memperoleh kepuasan estetik. Kepuasan estetik merupakan hasil interaksi antara
karya seni dengan penghayatnya. Interaksi tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya
suatu kondisi yang mendukung dalam usaha menangkap nilai-nilai estetik yang
terkandung di dalam karya seni; yaitu kondisi intelektual dan kondisi
emosional. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam kondisi tersebut, apresiasi
bukanlah proses pasif, tetapi merupakan proses aktif dan kreatif, yaitu untuk
mendapatkan pengalaman estetik yang dihasilkan dari proses hayatan (Feldman,
1981).
Penghayat yang sedang
memahami karya sajian, maka sebenarnya ia harus terlebih dahulu mengenal
struktur organisasi atau dasar-dasar dari susunan dasar seni rupa, mengenal
tentang garis,shape, warna, teksture, volume, ruang dan waktu. Penghayat
harus mengetahui secara pasti asas-asas pengorganisasian; harmonis, kontras,
gradasi, repetisi, serta hukum keseimbangan, unity danvariaty Seperti
yang dikatakan oleh Stephen. C Pepper dalam The Liang Gie, bahwa untuk
mengatasi kemonotonan atau kesenadaan yang berlebihan dan juga aspek konfusi
atau kekontrasan yang berlebihan, penyusun karya harus mampu dan berusaha untuk
menampilkan keanekaan (variaty) dan kesatuan (unity) yang
semuanya tetap mempertimbangkan keseimbangan (The Liang Gie, 1976: 54.)
2.2 Dorongan Berkarya Seni dan Sejarah
Perkembangan Seni
2.2.1 Dorongan Berkarya Seni
Kapankah seni lahir ke
muka bumi? Andaikan ada pertanyaan seperti itu, maka jawabannya sangatlah
mudah, seni lahir sejak manusia berada di planet bumi ini. Bagaimanakah kita
membuktikannya? Sejarah telah menunjukkan berbagai fakta tentang perkembangan
kesenian sejak zaman prasejarah sampai kini.
Seni prasejarah yang
dihasilkan oleh manusia (homo sapiens) pertama, dengan nyata telah
memperlihatkan berbagai keunikan. Karya yang dibuat lebih banyak dimaksudkan
bagi keperluan hidup sehari-hari, untuk membantu tubuh dalam menghadapi
tantangan alam.
Bila kita meneliti
artifak peninggalan manusia prasejarah dapat dipastikan bahwa kepercayaan
animisme, dinamisme, dan totemisme sudah ada pada saat itu. Kepercayaan
tersebut menjadi tenaga pendorong untuk berkarya, dan kita sering mengatakan
bahwa karya itu berlatar belakang magis dan religius. Namun tidak sedikit pula
karya seni, khususnya seni rupa, yang dilatar belakangi oleh kepentingan
praktis dan estetis saja.
Benda-benda peninggalan
seni prasejarah yang dapat kita catatkan di antaranya:
a)
Lukisan gua (cave
painting) banyak ditemukan di Eropa dan di Indonesia dengan berbagai gaya
dan bentuk, dengan latar belakang magis
b)
Bejana keramik (gerabah) dengan berbagai
motif hias yang menarik untuk kepentingan praktis.
c)
Genderang perunggu untuk kepentingan
upacara religi yang dihiasi motif stilasi makhluk hidup dan motif geometris
yang artistik
d) Hiasan-hiasan
tubuh (manik-manik), senjata, serta perlengkapan upacara, termasuk
patung-patung kecil dari batu atau logam.
Selain contoh karya
yang dituliskan tersebut masih banyak karya seni prasejarah yang lain, baik
yang dihasilkan pada zaman paleolitikum, messolitikum, megalitikum, neolitikum,
maupun zaman logam. Perlu dicatat juga bahwa karya yang memiliki nilai artistik
yang tinggi, terutama pada benda- benda yang tiga dimensional, dihasilkan sejak
zaman neolitikum dan zaman logam. Jika kita ingin mengetahui latar belakang
penciptaan karya seni, maka kita harus memahami dorongan utama manusia dalam
menciptakan karya seni.
Berdasarkan penelitian,
dorongan berkarya seni pada dasarnya meliputi:
a.
Dorongan magis dan religius (keagamaan).
b.
Dorongan untuk bermain.
c.
Dorongan untuk memenuhi kebutuhan
praktis (sehari-hari).
2.2.2 Sejarah Perkembangan Seni
Sejarah
seni rupa di Indonesia tidak dapat di uraikan tanpa mengaitkan dengan sejarah
perkembangan budayanya, keduanya saling mengikat satu sama lain. Seni rupa merupakan bagian dari budaya, begitupun sebaliknya
didalam proses berkesenian tidak dapat lepas dari budaya itu sendiri. Oleh karena itu perkembangan sejarah seni
rupa di bagi menjadi beberapa bagian, seni rupa pra-sejarah, seni rupa hindu
budha, seni rupa islam, dan seni rupa modern.
1. Seni
Rupa Pra-Sejarah
Dilihat dari segi arkeologis,
seni rupa zaman
pra-sejarah di bagi mulai
dari zaman batu, zaman logam dan zaman batu besar.
·
Zaman batu
Karya seni rupa yang
ditemukan meliputi seni bangunan, seni kerajinan, seni
lukis, seni patung. Semua karya masih kurang sempurna mengingat alat dan
bahan masih sangat sederhana serta pengetahuan manusia masih terbatas.
·
Zaman Logam
Pada zaman ini menghasilkan kerajinan berupa
dari perunggu seperti genderang, kapak, bejana, dan patung, pada saat itu
manusia mampu membuat ornamen berbagai corak seperti corak monumental, dongson,
dan chou akhir.
·
Zaman Megalithikum (batu besar)
Peradaban
manusia lebih maju dengan bertambahnya pengetahuan, terlihat dari hasil karya
yang semakin bervariasi. Contohnya
Menhir, Dolmen, Sarkofagus, Kubur batu, Punden berundak
dan Arca. Seni rupa pada masa pra-sejarah
memiliki ciri-ciri yang besifat sakral, profan, tradisional, feodal, dan terbuka.
2. Seni
Rupa Hindu Budha
Manusia
sudah memiliki keahlian dalam bidang pertanian, membuat senjata, menuang logam,
membuat bangunan, sistem ukur, navigasi, dan sistem pemerintahan. Dalam
bidang seni sendiri, pada zaman hindu-budha bangsa
Indonesia telah mengembangkan beberapa kerajinan, diantaranya batik, wayang,
gamelan, dan seni pahat yangt dipengaruhi budaya India. Karya seni yang
dihasilkan berupa bangunan candi, pura, dan puri, seperti candi borobudur,
prambanan, badut, tikus dll.
3. Seni
Rupa Islam
Perkembangan seni rupa islam berbeda
dengan perkembangan pada zaman hindu-budha yang tahap perkembanganya dapat
dibagi berdasarkan segi politik dan kebudayaan, karena hal tersebut sulit di
terapkan dalam islam. Agama islam dibawah oleh para pedagang dari India,
Persia dan China, yang menyebarkan ajaran islam sekaigus memperkenalkan
kebudayaan masing-masing sehingga muncul akulturasi budaya. Agama islam
diperkenalkan oeh para mpu sebagai sarana untuk mengapdi kepada raja/sultan,
sedangkan para Wali berperan dalam mengembangkan seni di masyarakat
dengan media dakwah. Seni rupa pada zaman islam memiliki ciri sebagai berikut:
·
Bersifat feodal, yaitu kesenian yang bersifat
di istana sebagai media pengabdian kepada Raja / sultan
·
Bersumber dari kesenian pra Islam (seni
prasejarah dan seni Hindu Budha)
Karya seni rupa yang dihasilkan
pada zaman islam meliputi:
a. Seni Bangunan
§ Masjid,
pembangunan masjid masih dipengaruh hindu yang terlihat pada bagian atas masjid
dengan bentuk limas bersusun ganjil. contohnya atap masjid Agung Demak dan
Masjid Agung Banten.
§ Istana/
keraton berfungsi sebagai tempat tinggal Raja sekaligus pusat pemerintahan,
serta kegiatan agama dan budaya.
§ Makam,
pengaruh seni prasejarah tampak pada bentuk makam seperti punden berundak.
Sedangkan pengaruh hindu tampak pada nisannya yang diberi hiasan motif gunungan
atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat India yaitu pada makam
yang beratap sungkup.
b. Seni Hias
dan Seni Kaligrafi
Seni
hias islam mempunya ciri tersendiri, yakni dengan menghindari penggambaran
makhluk hidup secara realis, yang kemudian dibuat stilasi (digayakan) atau
deformasi (disederhanakan) dengan bentuk tumbuh–tumbuhan. Seni Hias yang
kemudian diterapkan pada seni kaligrafi. Seni kaligrafi atau seni khat
adalah seni tulisan indah, yang dalam agama Islam menggunakan bahasa arab yang
disebut dengan "Khot" sebagai bentuk simbolis dari rangkaian ayat –
ayat suci Al – Qur’an.
§ Kaligrafi
terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan
§ Kaligrafi
piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar
§ Kaligrafi
ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan
4. Seni
Rupa Modern
Seni rupa modern indonesia
terbagi atas beberapa masa, yakni:
v Masa Perintis Seni Rupa Baru Indonesia
Raden
Saleh(1811 -1880) adalah tokohnya, orang pribumi yang mampu
melukis dengan gaya barat, baik dari segi alat, media maupun teknik dengan
penggambaran yang natural. Raden Saleh banyak mendapat bimbingan dari
pelukis Belgia Antonio Payen, pelukis Belanda A. Schelfhouf dan C. Kruseman di
Den Haag. Karya-karya Raden Saleh
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
ü Bergaya
natural dan romantisme
ü Kuat
dalam melukis potret dan binatang
ü Pengaruh
romantisme Eropa terutama dari Delacroix.
ü Pengamatan
yang sangat baik pada alam maupun binatang
v Masa Seni Lukis Hindia Molek (1920-1938)
Julukan
"Hindia Molek" diberikan oleh S.Sudjojono karena yang dilukiskan
hanya keindahan alam saja. Setelah kematian Raden Saleh yang
hampir setengah abad, Indonesia mengalami mati suri dalam perjalanan
seni rupa yang akhirnya memberikan dampak: Dampak negatif karena
dianggap mengalami kemunduran dengan jumlah seniman yang sedikit dan
penyempitan tema yaitu terbatas pada keindahan alam. Dampak positif
yakni banyak pelukis yang melukiskan keindahan alam Indonesia,
otomatis mengangkat nilai apresiatif (penghargaan) terhadap
keindahan alam Indonesia yang sangat dikagumi oleh
seniman pribumi dan eropa.
v Masa Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia)
Tujuan
dari kelompok persagi adalah untuk mencari corak seni yang baru, pemahaman
melukis tidak hanya pemandangan sawah, sungai, pantai dan
gadis cantik. artinya membuat karya seni sesuai dengan realita
yang ada tanpa membaguskan objek. Tokoh yang aktif sekaligus
penggerak Persagi adalah S. Sudjojono, melalui tulisan-tulisannya yang dimuat
di majalah dan surat kabar. Seni lukis sebagai salah satu unsur kebudayaan
suatu bangsa dengan sendirinya seharusnya mengungkapkan corak
yang cocok dengan watak bangsa itu dan menganjurkan
kepada para pelukis untuk mempelajari kehidupan rakyat jelata di
kampung-kampung dan di desa-desa.Tokoh lainnya seperti Otto Djaja, Suromo, G.A.
Soekirno.
v Masa Pendudukan Jepang
Pada
masa pendudukan jepang, seni rupa tidak begitu terlihat perkembangannya. Hanya
saja pada saat itu Jepang mendirikan KEIMIN BUNKA SHIDOSO, Lembaga Kesenian
Indonesia–Jepang yang pada dasarnya lebih mengarah pada kegiatan propaganda
Jepang. Kemudaian tahun 1943 Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar
Dewantara dan KH Mansur mendirikan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) dengan
tujuan memperhatikan dan memperkuat perkembangan seni dan budaya. Tokoh
utama pada masa ini antara lain; S. Sudjojono, Basuki Abdullah, Emiria Surnasa Agus
Djajasumita, Barli dan Affandi.
v Masa Pendirian Sanggar-sanggar
Pertumbuhan
seni rupa berjalan terus hingga tahun 1950 dengan munculnya lembaga
pendidikan kesenian formal seperti Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta dan
Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar bagian Seni Rupa ITB. Sekitar
tahun 1975, muncul karya - karya seni rupa baru yang tidak lagi dapat
disebut sebagai seni lukis dalam arti umum dan
merupakan sikap pemberontakan terhadap kemapanan seni dan seniman
yang ada. Ha tersebut disambut dengan tanggapan kurang positif, bahkan
cemoohan oleh para seniman, masyarakat dan pemerhati seni.
Karya-karya
seni rupa baru cenderung bersifat eksperimental atau memberi pengalaman
baru dari apa yang telah ada dengan maksud memenuhi tuntutan zaman dan
situasi yang berkembang. Seniman dalam grup ini adalah Harsono, Nanik
Mirna, Siti Adiyati Subangun, Ris Purwono, S. Prinka, Bonyong Munni Ardhi,
dan Jim Supangkat.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Nilai estetis
selain terdiri dari keindahan sebagai nilai yang positif kini dianggap pula
meliputi nilai yang negatif. Hal yang menunjukkan nilai negatif itu ialah
kejelekan (ugliness). Kejelekan tidaklah berarti kosongnya atau
kurangnya ciri-ciri yang membuat sesuatu benda disebut indah, melainkan
menunjuk pada ciri-ciri yang nyata bertentangan sepenuhnya dengan kwalita yang
indah itu. Kini keindahan dan kejelekan sebagai nilai estetis yang positif dan
yang negatif menjadi sasaran penelaahan dari estetik filsafati serta nilai
estetis pada umumnya kini diartikan sebagai kemampuan dari sesuatu benda untuk
menimbulkan suatu pengalaman estetis.
Bila kita meneliti
artifak peninggalan manusia prasejarah dapat dipastikan bahwa kepercayaan
animisme, dinamisme, dan totemisme sudah ada pada saat itu. Kepercayaan
tersebut menjadi tenaga pendorong untuk berkarya, dan kita sering mengatakan
bahwa karya itu berlatarbelakang magis dan religius. Namun tidak sedikit pula
karya seni, khususnya seni rupa, yang dilatarbelakangi kepentingan praktis dan
estetis saja.
Berdasarkan penelitian,
dorongan berkarya seni pada dasarnya meliputi:
d.
Dorongan magis dan religius (keagamaan).
e.
Dorongan untuk bermain.
f.
Dorongan untuk memenuhi kebutuhan
praktis (sehari-hari).
Sejarah
seni rupa di Indonesia tidak dapat di uraikan tanpa mengaitkan dengan sejarah
perkembangan budayanya, keduanya saling mengikat satu sama lain. Seni rupa merupakan bagian dari budaya, begitupun sebaliknya
didalam proses berkesenian tidak dapat lepas dari budaya itu sendiri. Oleh karena itu perkembangan sejarah seni
rupa di bagi menjadi beberapa bagian, seni rupa pra-sejarah, seni rupa hindu
budha, seni rupa islam, dan seni rupa modern.
3.2
Saran
Setelah
mengetahui apa saja yang dibahas didalam makalah ini, para pembaca diharapkan
dapat mengetahui dan memahami isi makalah ini yang berjudul “Wawasan Seni (
Nilai Estetis, Dorongan Berkarya Seni dan Sejarah Perkembangan Seni)”. Selain
itu, para pembaca diharapkan dapat memperoleh pengetahuan tentang seni tidak
hanya dari makalah ini saja, akan tetapi para pembaca juga diharapkan untuk
menambah pengetahuannya melalui sumber-sumber yang lain, sehingga setiap sumber
dapat saling melengkapi satu sama lain.
DARTAR PUSTAKA
Rahma,
Nugraheni Nurfitra.2012.Wawasan Seni,(online),(
http://nurfitrarahma.blogspot.ca/2012/07/wawasan-seni.html?m=1),diakses
22 September 2015
Florean,Muhammad
Reyhan.2015.Pendidikan Seni Rupa dan
Kerajinan PGSD STKIP PGRI TULUNGAGUNG,(online),( http://psrpgsdstkippgritulungsgung.blogspot.co.id/2015/09/pendidikan-seni-rupa-dan-kerajinan-pgsd.html?m=1),diakses
22 September 2015
Pratama,Ichal.2014.MakalahTinjauan Seni-Wawasan Seni,(online),(
http://ichaltecnik.blogspot.com/2014/02/makalahtinjauan-seni-wawasan-seni.html?m=1),diakses
22 September 2015
Annun,
Maslahah Nenes.2014.Sejarah Seni Rupa
Indonesia,(online),( http://www.designes.biz/2014/11/sejarah-seni-rupa-indonesia.html),diakses
22 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar