KRITIK
SENI
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah :
Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan
Dosen pembimbing
: Muhammad Reyhan Florean, M.Pd
Disusun Oleh :
1.
Dyah Noni Sukessi ( 14186206291 )
2.
Dhea Aryani .S ( 14186206130 )
3.
Gandes Rinda .P ( 14186206116 )
4.
Retno Wijayanti ( 14186206287 )
5.
Isa Fitri Setiawan ( 14186206134 )
PGSD/3D
Kelompok : 2
STKIP PGRI
TULUNGAGUNG
Jln. Mayor Sujadi No. 7 Tulungagung
Telp.
0355-3214265
KRITIK
SENI
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah :
Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan
Dosen pembimbing
: Muhammad Reyhan Florean, M.Pd
Disusun Oleh :
6.
Dyah Noni Sukessi ( 14186206291 )
7.
Dhea Aryani .S ( 14186206130 )
8.
Gandes Rinda .P ( 14186206116 )
9.
Retno Wijayanti ( 14186206287 )
10. Isa
Fitri Setiawan ( 14186206134 )
PGSD/3D
Kelompok : 2
STKIP PGRI
TULUNGAGUNG
Jln. Mayor Sujadi No. 7 Tulungagung
Telp.
0355-3214265
KATA PENGANTAR
Segala
puji syukur ke-Hadirat Alloh SWT yang telah memberikan hidayah dan inayahnya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar tanpa
halangan suatu apapun. Tanpa hidayah dan inayahnya mungkin kami tidak akan
sanggup dalam menyelesaikan makalah ini yang berjudul “KRITIK SENI”
1.
Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih
kepada : Muhammd Reyhan Florean,M.Pd selaku dosen Seni Rupa dan Kerajinan yang
telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini.
2.
Rekan-rekan yang telah membantu dan
memberikan motivasi dalam menyusun makalah ini.
Kami
membuat makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Seni Rupa dan Kerajinan. Kami
juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari rekan-rekan semua agar makalah ini bisa
mendekati sempurna dan bermanfaat bagi para pembaca.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar
Isi................................................................................................................. iii
2.1 Latar
Belakang............................................................................................... 1
2.2 Perumusan
Masalah........................................................................................ 2
2.3 Tujuan............................................................................................................. 2
2.4 Manfaat.......................................................................................................... 3
BAB
II Pembahasan................................................................................................ 4
2.1 Pengertian
Kritik Seni.................................................................................... 4
2.2 Jenis-jenis
Kritik Seni..................................................................................... 6
2.3 Fungsi
Kritik Seni.......................................................................................... 7
2.4 Tahapan
Kritik Seni........................................................................................ 9
BAB
III Penutup................................................................................................... 11
3.1 Kesimpulan................................................................................................... 11
3.2 Saran............................................................................................................. 12
Daftar
Pustaka....................................................................................................... 13
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam kehidupan seni aktivitas manusia
terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu aktivitas kreasi, aktivitas penghayatan, dan
aktivitas kritik seni. Aktivitas karya seni yaitu mengacu adanya seniman yang
menghadirkan karya. Artinya, dalam proses seniman bersinggungan dengan
kenyataan objektif di luar dirinya atau kenyataan dalam dirinya sendiri.
Persinggungan tersebut menimbulkan respon atau tanggapan. Tanggapan yang
dimilikinya dipresentasikan ke luar dirinya, maka lahirlah karya seni.
Aktivitas penghayatan, yaitu aktivitas seseorang dalam memahami karya seni
untuk mendapatkan suatu pengalaman batin. Artinya, penghayat merasa puas
setelah menghayati karya seni dan
memperoleh kepuasan estetik.
Kepuasan estetik merupakan hasil
interaksi antara karya seni dengan penghayat. Sedangkan aktivitas kritik seni,
yakni sebagai usaha pemahaman dan penikmatan karya seni. Dalam hal ini kritik
sebagai kajian rinci dan apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif
untuk menafsirkan karya seni. Ketiga aktivitas tersebut, dapat dijelaskan bahwa
kreasi seni berkaitan dengan mencipta, menghayati, dan kritik. Mencipta, yaitu
proses mewujudkan suatu karya seni sesuai dengan ide seniman. Menghayati, yakni
proses menikmati suatu karya yang diciptakan seniman. Kritik, yakni proses
evaluasi untuk menentukan baik-buruknya suatu ciptaan atau memberi penjelasan
terhadap suatu karya berdasarkan norma-norma tertentu. Oleh karena itu, ketiga
aktivitas itu, yakni antara seniman, penghayatan, dan kritik seni (penilaian)
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Proses apresiasi memang menjadi
satu kebutuhan dan kritik adalah kebutuhan yang lain. Keduanya dapat berkait
ketika kritik berhasil sebagai pemandu pemahaman dan apresiasi. Kritik selalu
diharapkan menjadi pembuka kemungkinan adanya proses pemahaman antara kerja
seniman dan daya apresiasi masyarakat penikmatnya. Tugas kritik karya seni akan
lebih banyak pada prioritas masalah apresiasi, sehingga seluruh proses
pendekatan dan isi paparan kritik dapat menciptakan iklim apresiasi.
Kritik Seni dalam dunia Seni Rupa sangat
penting. Malalui Kritik Seni, kita bisa melihat kelebihan dan kekurangan yang
tampak dalam sebuah karya seni. Terjadinya kritik disebabkan adanya ketidak
sesuaian, penyimpangan ataupun lepasnya batas-batas normatif dalam pandangan
obyektif pelaku kritik. Tentu pandangan masing-masing pelaku kritik didasari
dari latar belakang ilmu pengetahuan dan pengalamannya secara menyeluruh.
Artinya kritik pun bisa bermakna subyektif bisa pula bermakna obyektif. Namun
nilai kritik akan sangat bisa diterima, tentunya, jika sudah melalui seleksi
mayoritas atas pandangan yang obyektif. Situasi kondisi dalam hal ini sangat
mudah kita saksikan, baik itu di wilayah publik, maupun dalam wilayah-wilayah
yang lebih kecil. Misalnya lingkungan sekitar. Atau bisa juga dalam sebuah
komunitas tertentu.
Prilaku kritik mengkritik sangat mudah
dijumpai di mana saja dalam konteks sesuai dengan wilayah masing- masing.
Mengkritik sebaiknya dibarengi dengan semangat untuk menciptakan kondisi yang
lebih baik dari sebelumnya bukan sebaliknya. Jadi jikapun terjadi sebaliknya,
berarti ada yang konslet dari proses kritik mengkritik itu. Dan disitulah yang
musti dibenahi. Dalam kehidupan sosial secara umum, kritik mengkritik kerap
terjadi. saya yakin dengan menjaga prinsip-prinsip saling menghormati,
realistis dan menggunakan teknik komunikasi yang cerdas, maka kritik akan
menjadi perbuatan yang menyenangkan.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari pembahasan diatas yang menjadi
perumusan masalah adalah :
1.
Apa pengertian
dari kritik seni ?
2.
Apa saja
jenis-jenis dari kritik seni ?
3.
Apa manfaat dari
kritik seni ?
4.
Apa saja
tahap-tahap dalam kritik seni ?
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari kritik
seni.
2.
Untuk
mengetahui jenis-jenis dari kritik seni.
3.
Untuk
mengetahui manfaat dari kritik seni.
4.
Untuk
mengetahui tahap-tahap dalam kritik seni.
1.4
Manfaat
Penelitian
Dengan makalah
ini, diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta pemahaman yang baik, baik
kepada penulis maupun kepada pembaca tentang “KRITIK SENI”. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan
makalah ini adalah pembaca dapat mengetahui tentang Pengertian,
jenis-jenis, manfaat dan tahapan dalam kritik seni.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kritik Seni
Istilah kritik atau critism (Inggris)
berasal dari bahasa Yunani yakni kritikos yang berhubungan dengan krinein yang
berarti memisahkan, mengamati, membandingkan dan menimbang. Di Yunani ada kata
krites yang maksudnya hakim, dengan kata kerja krinein berarti juga menghakimi.
Kritikos berarti juga hakim kesusasteraan. Istilah ini ada semenjak abad ke IV
sebelum kelahiran kristus. Menurut sejarahnya, seorang bernama Pilatus dari
pulau Kos yang pada tahun 305 Sebelum Masehi didatangkan ke Alexandria untuk
menjadi guru raja Ptolomeus II dan dianugerahi julukan penyair dan kritikos
sekaligus (Hardjana, 1981).
Pada abad pertengahan di Eropa, istilah
kritik hanya muncul dalam bidang kedokteran dengan pengertian yang menyatakan
suatu keadaan penyakit yang kritis atau sangat membahayakan jiwa penderitanya.
Selanjutnya pada masa Renaissans arti kata tersebut kembali kepada pengertian
lama dan seorang yang bernama Poliziano pada tahun 1492 mempergunakan istilah-istilah
tersebut untuk membedakannya dengan filsuf. Pada waktu itu, istilah critikus dan
gramaticus dipergunakan untuk menunjuk orang-orang yang menekuni pustaka sastra
lama. Sementara itu seorang pujangga bernama Erasmus mempergunakan istilah art
critic untuk Al-Kitab sebagai alat atau sarana dalam pelayanan hidup. Beberapa
waktu kemudian di kalangan penganut Humanisme berlaku pengertian yang terbatas
pada penyuntingan dan pembetulan teks-teks kuno. Pergeseran arti kritik
sehingga mencakup pembetulan edisi, pernyataan pengarang, sensor dan
penghakiman berlaku pada sekitar tahun 1600. (Wellek, 1971).
Sementara itu, di Perancis dan Amerika
Serikat pada awal abad XIX berlaku kedua pengertian itu secara luas. Istilah
critique menunjuk pembicaraan tentang seniman tertentu, sedangkan criticism
menunjuk teorinya. Dalam bahasa Inggris, istilah Critic diperuntukkan kepada
orangnya, yang bahasa Belandanya Criticus.
Menurut Poerwadarminta , kritik berarti kemelut; keadaan genting. Kritik
berarti kecaman, celaan, gugatan. Sedangkan menurut Seodjipto (1991), arti kata
kritik adalah suatu cara atau metoda untuk membahas, menimbang, mengamati,
membandingkan, memilah-milah (menyeleksi), mengulas, mengurai, menafsir, meninjau,
komentar, menelaah, menilai, mengevaluasi dan mengkaji. Lebih lanjut W.H.
Hudson mengatakan bahwa istilah kritik dalam arti yang tajam adalah penghakiman
(judgesment). Kritikus pertama kali dipandang sebagai seorang ahli yang
memiliki kepandaian khusus dan mengalami pendidikan untuk menelaah suatu karya.
Memeriksa kebaikan dan cacat, lalu mengatakan pendapat itu. Selanjutnya Hudson
mengatakan adanya kritikan yang mengutamakan memuji dan mencari kebaikan dan
ada yang mengutamakan mencari cacat melulu. Menurut Gayley dan Scoot dalam Liaw
Yock Fang (1970), kritik adalah: mencari kesalahan (faul- finding), memuji (to
praise ), menilai (to judge ), membandingkan (to compare), dan menikmati (to appreciate
). Dari beberapa pandangan di atas, ternyata menunjukkan adanya perbedaan dalam
mendefinisikan apa kritik itu. Namun jika dicermati lebih mendalam akan ada
kesamaan, yakni: kritik adalah komentar, biasanya normatif terhadap suatu
prestasi dan seluk beluk dengan tujuan apresiatif.
Oleh karea itu, kritik seni merupakan
kegiatan menanggapi karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu
karya seni. Keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan ini dipergunakan dalam
berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas dari sebuah karya.
Para ahli seni umumnya beranggapan bahwa kegiatan kritik dimulai dari kebutuhan
untuk memahami kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari
kegiatan memperbincangkan berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni
tersebut. Sejalan dengan perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat
terhadap dunia seni, kegiatan kritik kemudian berkembang memenuhi berbagai
fungsi sosial lainnya. Kritik karya seni tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman
dan apresiasi terhadap sebuah karya seni, tetapi dipergunakan juga sebagai
standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni. Tanggapan
dan penilaian yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama sangat mempengaruhi
persepsi penikmat terhadap kualitas sebuah karya seni bahkan dapat mempengaruhi
penilaian ekonomis (price ) dari karya seni tersebut.
2.2 Jenis-jenis Kritik Seni
Kritik karya seni memiliki perbedaan
tujuan dan kualitas. Karena perbedaan tersebut, maka dijumpai beberapa jenis
karya seni seperti yang disampaikan oleh Feldman (1967) yaitu kritik populer
(popular criticism ), kritik jurnalis (journalistic criticism ), kritik keilmuan
(scholarly criticism). dan kritik pendidikan (pedagogical criticism ). Pemahaman
terhadap keempat tipe kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan
pola pikir dalam melakukan kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria),
media (alat : bahasa), cara (metoda), sudut pandang, sasaran, dan materi yang
tidak sama. Keempat kritik tersebut memiliki fungsi yang menekankan pada
masing-masing keperluannya.
a.
Kritik Populer
Kritik
populer merupakan jenis kritik seni yang ditujukan untuk konsumsi massa/umum.
Tanggapan yang disampaikan melalui kritik jenis ini biasanya bersifat umum saja
lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya. Dalam tulisan kritik
populer, umumnya dipergunakan gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana yang
mudah dipahami oleh orang awam.
b.
Kritik Keilmuan
Kritik
keilmuan adalah jenis kritik yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan,
kemampuan dan kepekaan yang tinggi untuk menilai/menanggapi sebuah karya seni.
Kritik jenis ini umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji
kepakarannya dalam bidang seni, atau kegiatan kritik yang disampaikan mengikuti
kaidah-kaidah atau metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui
kritik keilmuan seringkali dijadikan referansi bagi para kolektor atau kurator
institusi seni seperti museum, galeri dan balai lelang.
c.
Kritik Jurnalis
Kritik
jurnalis ialah jenis kritik seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya
disampaikan secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat
kabar. Kritk ini hampir sama dengan kritik populer, tetapi ulasannya lebih
dalam dan tajam. Kritik jurnalistik sangat cepat mempengaruhi persepsi
masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni, tertama karena sifat dari
media massa dalam mengkomunikasikan hasil tanggapannya
d.
Kritik Kependidikan
Kritik
kependidikan merupakan kegiatan kritik yang bertujuan mengangkat atau
meningkatkan kepekaan artistik serta estetika subjek belajar seni. Jenis kritik
ini umumnya digunakan di lembaga- lembaga pendidikan seni terutama untuk
meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis
ini termasuk yang digunakan oleh guru di sekolah umum dalam penyelenggaraan
mata pelajaran pendidikan seni.
2.3 Fungsi Kritik Seni
Kritik seni memiliki fungsi yang sangat
strategis dalam dunia kesenirupaan dan pendidikan seni rupa. Fungsi kritik seni
yang pertama dan utama ialah menjembatani persepsi dan apresiasi artistik dan
estetik karya seni rupa, antara pencipta (seniman, artis), karya, dan penikmat
seni. Komunikasi antara karya yang disajikan kepada penikmat (publik) seni
membuahkan interaksi timbal-balik dan interpenetrasi keduanya.
Fungsi lain ialah menjadi dua mata yang
saling dibutuhkan, baik oleh seniman maupun penikmat. Seniman membutuhkan mata panah
tajam untuk mendeteksi kelemahan, mengupas kedalaman, serta membangun
kekurangan. Seniman memerlukan umpan-balik guna merefleksi
komunikasi-ekspresifnya, sehingga nilai dan apresiasi tergambar dalam realita
harapan idealismenya. Publik seni (masyarakat penikmat) dalam proses
apresiasinya terhadap karya seni membutuhkan tali penghubung guna memberikan
bantuan pemahaman terhadap realita artistik dan estetik dalam karya seni.
Proses apresiasi menjadi semakin terjalin lekat, manakala kritik memberikan
media komunikasi persepsi yang memadai. Kritik dengan gaya bahasa lisan maupun tulisan
yang berupaya mengupas, menganalisis serta menciptakan sudut interpretasi karya
seni, diharapkan memudahkan bagi seniman dan penikmat untuk berkomunikasi
melalui karya seni Menurut Sudarmaji (1970) melihat kritik memiliki dua fungsi,
yakni:
1)
Sebagai pemberitahuan bahwa ada penyuguhan
hasil seni. Sebagai fungsi tak langsung, dan
2)
Pembicaraan sesuatu gejala, memberikan
pengantar, lalu menilai baik buruknya suatu prestasi, serta memberikan
apresiasi. Berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal pula
beberapa bentuk kritik yaitu: kritik instrumentalistik, kritik formalistik dan ekspresivistik
:
·
Kritik Instrumentalistik
Melalui
pendekatan instrumentalistik sebuah karya seni cenderung dikritisi berdasarkan
kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau
psikologi. Pendekatan kritik ini tidak terlalu mempersoalkan kualitas formal
dari sebuah karya seni tetapi lebih melihat aspek konteksnya baik saat ini
maupun masa lalu. Lukisan berjudul ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya
Raden Saleh misalnya, dikritisi tidak saja berdasarkan kualitas teknis (formal)
nya saja tetapi keterkaitan antara objek, isi, tema dan tujuan serta pesan
moral yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi pengamatnya terhadap
konteks ketika karya tersebut dihadirkan.
·
Kritik Formalistik
Melalui
pendekatan formalistik, kajian kritik terutama ditujukan terhadap karya seni
sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan dengan unsur-unsur
pembentukannya. Pada sebuah karya lukisan, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada
kualitas penyusunan (komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis,
tekstur, dan sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik
berkaitan juga dengan kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya
seni.
·
Kritik Ekspresivistik
Melalui
pendekatan ekspresivistik dalam kritik seni, kritikus cenderung menilai dan
menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh
seniman melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi
kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek
yang ditampilkan dalam sebuah karya.
2.4 Tahap dalam Kritik Seni
Berdasarkan beberapa uraian tentang
pendekatan dalam kritik seni, dapat dirumuskan tahapan-tahapan kritik secara
umum sebagai berikut:
a)
Deskripsi
Deskripsi
ialah tahapan dalam kritik untuk menemukan, mencatat dan mendeskripsikan segala
sesuatu yang dilihat apa adanya dan tidak berusaha melakukan analisis atau
mengambil kesimpulan. Agar dapat mendeskripsikan dengan baik, seorang pekritik
harus mengetahui istilah-istilah tehnis yang umum digunakan dalam dunia seni
rupa. Tanpa pengetahuan tersebut, maka pekritik akan kesulitan untuk
mendeskripsikan fenomena karya yang dilihatnya.
b)
Analisis formal
Analisis
formal merupakan tahapan dalam kritik karya seni untuk menelusuri sebuah karya
seni berdasarkan struktur formal atau unsur-unsur pembentuknya. Pada tahap ini
seorang kritikus harus memahami unsur-unsur seni rupa dan prinsip- prinsip
penataan atau penempatannya dalam sebuah karya seni.
c)
Interpretasi
Interpretasi
yaitu tahapan penafsiran makna sebuah karya seni meliputi tema yang digarap,
simbol yang dihadirkan dan masalah- masalah yang dikedepankan. Penafsiran ini
sangat terbuka sifatnya, dipengaruhi sudut pandang dan wawasan pekritiknya.
Semakin luas wawasan seorang pekritik biasanya semakin kaya interpretasi karya
yang dikritisinya.
d)
Evaluasi atau penilaian
Apabila
tahap 1 sampai 3 ini merupakan tahapan yang juga umum digunakan dalam apresiasi
karya seni, maka tahap ke 4 atau tahap evaluasi merupakan tahapan yang menjadi
ciri dari kritik karya seni. Evaluasi atau penilaian adalah tahapan dalam
kritik untuk menentukan kualitas suatu karya seni bila dibandingkan dengan
karya lain yang sejenis. Perbandingan dilakukan terhadap berbagai aspek yang
terkait dengan karya tersebut baik aspek formal maupun aspek konteks.
Mengevalusi atau menilai secara kritis dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
§ Mengkaitkan
sebanyak- banyaknya karya yang dinilai dengan karya yang sejenis
§ Menetapkan
tujuan atau fungsi karya yang ditelaah
§ Menetapkan
sejauh mana karya yang ditetapkan “menyimpang” dari yang telah ada sebelumnya.
§ Menelaah
karya yang dimaksud dari segi kebutuhan khusus dan segi pandang tertentu yang
melatarbelakanginya.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kritik seni merupakan kegiatan
menanggapi karya seni untuk mempertumbuhkan kelebihan dan kekurangan suatu
karya seni. Kegiatan kritik berawal dari kebutuhan untuk memahami kemudian
beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan
berbincang-bincang tentang karya seni. Menurut Feldman (1967) terdapat 4 (empat)
jenis kritik seni, yaitu kritik jurnalistik (journalistic criticism), kritik populer
(popular criticism), kritik pedagogik (pedagogical criticism), dan kritik
akademik (scholarly criticism). Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni
dapat mengantar nalar kita untuk menentukan pola pikir dalam melakukan kritik
seni. Berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal beberapa bentuk
kritik sebagai berikut :
1.
Kritik Formalistik, kajian kritik
terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya atau berkaitan
dengan unsurunsur pembentukannya.
2.
Kritik Espresivistik, menilai dan
menanggapi gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh seniman dalam
sebuah karya seni.
3.
Kritik Instrumentalistik, sebuah karya
seni dilihat kemampuananya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius,
politik atau psikologi .
Kegiatan dalam Kritik Karya Seni Rupa
secara umum mengikuti tahapan sebagai berikut: Deskripsi, Analisis formal,
Interpretasi, dan Evaluasi atau penilaian, Fungsi kritik seni yang pertama dan
utama ialah menjembatani persepsi dan apresiasi artistik dan estetik karya seni
rupa, antara pencipta (seniman, artis), karya, dan penikmat seni. Arus
komunikasi antara karya yang disajikan kepada penikmat (publik) seni membuahkan
interaksi timbal-balik dan interpenetrasi keduanya. Fungsi lain ialah menjadi
jalan strategis bagi seniman dan penikmat untuk berkomunikasi.
3.2
Saran
Setelah
mengetahui apa saja yang dibahas didalam makalah ini, para pembaca diharapkan
dapat mengetahui dan memahami isi makalah ini yang berjudul “KRITIK SENI” yang
mencakup pengertian, jenis-jenis, manfaat dan tahapan dalam kritik seni. Selain
itu, para pembaca diharapkan dapat memperoleh pengetahuan tentang seni tidak
hanya dari makalah ini saja, akan tetapi para pembaca juga diharapkan untuk
menambah pengetahuannya melalui sumber-sumber yang lain, sehingga setiap sumber
dapat saling melengkapi satu sama lain.
DARTAR PUSTAKA
Glewean,Kusuka.2014.Memahami kritik seni pengertian, jenis dan
fungsi,(online),(
http://artfiantgel.blogspot.com/2014/11/pentingnya-memahami-kritik-seni.html?m=1),diakses
30 November 2015
Anonim.2012.Pengertian kritik seni,(online),( http://kiossahabatbaru.blogspot.com/2012/04/kritik-seni.html?m=1),diakses
30 November 2015
Soo,Ade.2014.Pengertian,ruang lingkup dan jenis kritik
seni,(online),( http://adewinataa.blogspot.com/2014/12/pengertian-ruang-lingkup-dan-jenis.html?m=1),diakses
30 November 2015
Kak,mohon berikan penjelasan tentang
BalasHapusYg kakak buat Kritikos berarti juga hakim kesusasteraan. Istilah ini ada semenjak abad ke IV sebelum kelahiran kristus'
Mohon kak
Ahgase kahh????
BalasHapus